Gaduh Saat PPKM Darurat di Jepara, Masjid Ditutup Pabrik Dibuka - Jateng7


Saturday, July 10, 2021

Gaduh Saat PPKM Darurat di Jepara, Masjid Ditutup Pabrik Dibuka

 

Ditutup Masjid Agung Jepara selama masa PPKM Darurat
 

JATENG7.JEPARA - Geger, Masjid Agung  Baitul Makmur Jepara yang terletak di sebelah selatan alun-alun kota Jepara Jumat kemarin sholat Jumat ditiadakan dan ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Jepara. Hal ini dilakukan karena untuk mengurangi pandemi global penyebaran virus Covid 19 yang dan menjalankan instruksi Presiden RI Joko Widodo dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat / PPKM yang  di mulai sejak 03 juli sampai 20 juli ini.

Kebijakan ini menjadikan gejolak bagi masyarakat ada yang pro dan ada yang kontra. Dilansir dari laman FB dan ig info seputar jepara. Miris banget komentar netizen tentang PPKM darurat banyak kecaman yang menghujat  atas penutupan masjid tersebut, netizen  membandingkan  antara "pabrik dan masjid.

“Pabrik saja masih banyak yang buka dan disitu mobilisasi tinggi kenapa gak ditutup, sedangkan sholat Jumat yang gak nyampai satu jam malah ditutup,"ungkap netizen.

Dengan adanya gejolak tersebut, tim Jateng7.co mendatangi tokoh agama Jepara yang pernah menjabat ketua Surya NU dua kali di Batealit. Dia menyampaikan " memang dengan adanya kondisi seperti ini menjadikan masyarakat bawah  yang bergejolak.

Menurut Toga tersebut  ini kondisional aja, artinya kalau Masjid agung itu punya pemerintah dan ditempat yang ramai banyak pengunjung dari berbagai daerah, jadi wajar kalau ditutup karena darurat,”jelasnya.

Tetapi untuk masjid dikampung biasanya warga sendiri yang membangun, jadi kalau memang warga menghedaki sholat Jumat  silahkan saja.  “Dan selama ini belum pernah dapat riwayat atau hadist yang menerangkan tentang penutupan masjid,”katanya.

Tambahnya, menceritakan pada zaman dahulu pernah dialami oleh sahabat Umar  terjadi thoun/wabah yang menular, tetapi tidak sampai menutup masjid. Pada tahun 669 Hijriah zaman Anas Bin Malik seorang tokoh agama terkemuka pada waktu itu juga pernah ada wabah  yang sampai sehari semalam meninggal 70 orang selama tiga hari jadi dua puluh satu orang. Tetapi zaman dulu wabah tersebut hanya dibeberapa tempat saja dan waktunya gak lama, tidak seperti sekarang jangka panjang dan mendunia,”tutupnya.

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen atau yang dikenal Gus Nadir ikut bersuara atas munculnya kegaduhan soal penutupan masjid saat PPKM Darurat berlaku. Gus Nadir pun mengajak semua elemen untuk melihat hal positif dari penutupan masjid yang menjadi salah satu poin dari kebijakan PPKM Darurat untuk menekan kasus Covid-19 saat ini.

Sebagai informasi, sebelumnya pemerintah telah secara resmi memutuskan memberlakukan PPKM Darurat demi mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia yang kini mengganas. Keputusan menerapkan PPKM Darurat itu secara resmi diumumkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Istana Kamis, 1 Juli 2021 dan disiarkan di kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Dalam kebijakan PPKM Darurat yang mulai berlaku 3 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021 ini pemerintah membuat aturan lebih ketat dalam berbagai sektor khususnya di Jawa dan Bali. Dari penjelasan pemerintah, PPKM atau Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat ini memiliki perbedaan signifikan dibanding dengan aturan sebelumnya PPKM Mikro.

Jokowi pun telah menunjuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan atau LBP untuk memimpin PPKM Darurat di Jawa, dan Bali. Selain memperketat perjalanan orang hingga aturan perdagangan, salah satu yang ikut diperketat adalah ditutupnya area tempat ibadah, baik masjid, gereja, pura, dan lainnya.

Sejumlah pihak baik dari tokoh, politisi, sampai masyarakat pun ramai-ramai mengeluarkan pendapatnya atas adanya aturan penutupan masjid selama PPKM Darurat berjalan. Banyak yang mendukung atas kebijakan itu demi menekan laju penularan Covid-19 di Indonesia yang terus melonjak, tetapi tak sedikit juga yang justru mengkritik.

Ustad Abdul Somad memberikan komentar terkait penutupan masjid selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Jawa dan Bali. UAS, sapaan akrabnya terlihat marah saat menyampaikan ceramah yang menyinggung aturan pemerintah, menutup masjid dan tempat ibadah lainnya selama PPKM darurat.

Bahkan, ia membandingkan dengan tempat umum lainnya yang tetap dibuka dan beroperasi. Melarang orang ke masjid tapi hotel, pasar  bahkan pabrik malah dibiarkan.  

Menurutnya, berkumpul di masjid hanya menetap 5 sampai 10 menit, sedangkan orang yang berkumpul di mall bisa berjam-jam. "5 jam orang duduk beramai-ramai tertawa, cekakak-cekikik, tertular penyakit. Masjid yang kau salahkan," tuturnya. (Tim Jateng7/ PWO Jepara).

 

 

 

 

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments