Tragis TKW di Singapura Dianiaya Sampai Mata Buta, Negara Perlu Melek Mata - Jateng7

Thursday, October 29, 2020

Tragis TKW di Singapura Dianiaya Sampai Mata Buta, Negara Perlu Melek Mata

 

Sugiyem tengah berkumpul  keluarga bersama  awak media dan LSM di Sukolilo  

JATENG7.JEPARA - Memprihatinkan! Sugiyem (49) yang bekerja di Singapura sejak 17 Mei  2017 mengalami penyiksaan oleh majikan tempat dia bekerja. Menurut penuturan korban , bahwa majikan yang bernama Ummi Kalsum binti Ali beralamat Pasiris dref 6, blok 824 Singapura ini ringan tangan.

Sugiyem yang lahir 02 Mei 1971 di Dukuh Ledok, desa Sukolilo, Kabupaten Pati  Jawa Tengah, memulai mengadu nasib di negeri orang 17 mei 2017 diawali berangkat dari rumah menuju ke Batam. Di sana dibantu oleh bu Ning, kemudian diterbangkan ke Singapura diterima agen bernama Hasyim beralamat di Bedug, Singapura.

Kepada media, Sugiyem menceritakan bahwa selama 4 tahun pertama bekerja di Singapura ,tidak ada masalah dan baik baik saja.  Setelah itu  pindah ke majikan lain pada setahun terakhir. Namun majikan kedua ini berbeda, tidak sama dengan yang dulu. Suka mukul dan salah sedikit marah. Sejak bulan puasa kemaren, yaitu 6 bulan dari sekarang, penyiksaan demi penyiksaan itu mulai dirasakan.   "saya tidur di lantai beralaskan plastik sampah.”ujar Sugiyem

Sugiyem korban penganiayaan TKW Singapura ini menunjukkan pada awak media mulai dari kepala bagian belakang , tengkuk sering menjadi sasaran kemarahan sang majikan. Telinga kiri kanan secara bersamaan dipukuli dengan kedua tangan sampai berdenging. 

“Telinga saya sampai bengkak seperti balon ditiup. Sakit sekali. Kemaren telinga saya gak bisa dengar,”katanya.

Masih Sugiyem,” ini mata saya ditonjok,dipukul dengan gantungan pakaian,dan sekarang tidak bisa melihat. Hanya kelihatan kuning kuning samar gak jelas,”tuturnya.

 Kaki yang hampir tidak bisa buat jalan dalam kondisi bengkak , Giyem dipapah oleh menantunya dibawa di halaman depan rumah sore itu minggu 25 Oktober 2020 sekira Pukul 17.30 wib.

Di situ Sugiyem menunjukkan tangan kanannya di bawah siku yang bekas luka bakar akibat disetrika. Menurut pengamatan awak media bahwa lebih dari satu kali bekas setrika tersebut. Sebagai sesama manusia,melihat kondisi seperti itu bisa membayangkan,betapa sakitnya penderitaan yang dialami Sugiyem.

Sugiyem mengalami buta mata saat mendapat penyiksaan oleh majikan di Singapura

Kedua pergelangan tangannya pun hampir patah karena ditekuk oleh majikan dan bengkak sehingga kedua tangan tidak mampu lagi untuk beraktivitas. Kedua kaki bengkak seperti kaki gajah karena bekerja hampir tidak ada waktu buat istirahat.

Pernah saya salah jalan di dalam  rumah, tambah sugiyem, saya dipukuli . malah saya difitnah. Katanya saya mau mencuri. Ketika saya bilang bahwa saya tidak bisa melihat, majikan bilang saya bohong. Sebab mata saya kan melek.

Saat ditanya , apakah tidak ada keinginan untuk melarikan diri ?  Sugiyem menjelaskan bahwa,rumah selalu terkunci dan tidak bisa kemana mana. Paling hanya bisa lihat lewat jendela.

Dengan kondisi tidak bisa melihat,  Sugiyem   bekerja hanya ngelap ngelap meja dan lantai. Karena saya tidak bisa melihat, saya pernah memecahkan perabot rumah tangga. Di situ saya juga dipukuli.

Pada akhirnya Sabtu 24/10/2020 , Sugiyem  diantar   oleh kedua majikan laki dan perempuan dengan bantuan kursi roda karena tidak bisa berjalan menuju bandara, pulang ke tanah air. Tangis keluarga pecah saat melihat kondisi Sugiyem mengalami luka lebam hampir sekujur tubuh dan mata yang buta.  (tim jateng7/PWO Jepara)

 


Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments