Sepi Pengunjung, Tradisi Meron Peringatan Maulid Nabi di Sukolilo Digelar Sederhana - Jateng7

Friday, October 30, 2020

Sepi Pengunjung, Tradisi Meron Peringatan Maulid Nabi di Sukolilo Digelar Sederhana

 

Prosesi kirab gunungan yang di tempatkan didepan rumah pemdes masing-msing Jumat (30/10)

JATENG7.PATI - Tradisi meron di Kecamatan Sukolilo Pati yang digelar tiap tahun biasanya bisa menyedot perhatian warga sekitar maupun yang melintas di Jalan Raya Pati-Purwodadi. Puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kecamatan Sukolilo diperingati sebagai tradisi Meronan, yang berlangsung digelar sederhana karena kondisi pandemi yang masih mencekam. Perayaan kali ini tampak sepi  perhatian warga, tak hanya warga Sukolilo, bahkan  warga lain yang menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

"Tradisi ini sudah rutin digelar setiap tahunnya untuk peringatan maulid nabi, antusiasnya tidak hanya dari masyarakat sekitar saja, tapi juga banyak dari luar daerah yang turut menggotong gunungan. Acara puncak yang biasanya meriah hanya dilaksanakan dihalaman rumah perangkat desa masing-masing. Sedang pusat acara Meron dilaksanakan pada hari Jum'at (30/10/2020) pukul 13.00 WIB-sampai selesai.

Meron adalah tradisi memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW sebagai puncak acara   ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang dibawa ke masjid besar Sukolilo sebagai kelengkapan upacara selamatan.  Kemudian dilakukan doa bersama yang di hadiri ketua paguyuban Meron Abdul Qadir, Pjs kepala desa Sukolilo Harminto, anggota Polsek Sukolilo, anggota Koramil sukolilo, perangkat desa dan beberapa tokoh masyarakat.  

Ketua Yayasan Meron Indonesia, Abdul Qodir menjelaskan,” bahwa meron terbuat dari bahan makanan yang dironce, yakni makanan serupa rengginang terbuat dari ketan lantas disusun sebagaimana melati dan ampyang. Itu merupakan lambang yang mempunyai makna merekatkan persaudaraan, persatuan," jelasnya.

Hal tersebut dijelaskannya ternyata sudah diambil dari para leluhur, dengan olahan seperti kronce bunga melati, rengginang dan ampyang. Keunikan Meron  punya karakter, yang tidak berubah meskipun ada perubahan jaman teknologi dan informasi.

Abdul Qadir menjelaskan, bahwa prosesi  dimulai dari istighosah, kemudian diadakan takhtimul Quran bil ghoib, setelah itu prosesi arak-arakan gunungan dan terakhir doa bersama. Gunungan dari aparat desa dan tokoh masyarakat setempat itu diarak berkeliling dan dengan spot terakhir di depan masjid Baitul Yaqin. Para masyarakat yang mengambil makanan itu mengharap berkah, dengan adanya ritual Meron yang menjadi peringatan Maulid Nabi Muhammad di Desa Sukolilo Pati.

Doa bersama di Masjid Besar Sukolilo sebagai  puncak ritual prosesi meron

Tentang asal-usul tradisi meron menurut ketua paguyuban merhon menceritakan  ketika Pati mempunyai hubungan kekerabatan yang baik dengan Mataram. Mereka sepakat mengembangkan Islam yang subur dan menentang setiap pengaruh kekuasaan asing. Banyak pendekar sakti mataram yang didatangkan ke Pati untuk melatih keprajuritan. Karena itu mereka harus tinggal berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di Pati. Ada seseorang bernama Ki Suta Kerta yang menjadi demang Sukolilo.

Meskipun ayah dan kakeknya berasal dari Mataram dia belum pernah mengenal bumi leluhurnya. Tapi dia bersukur tinggal di Pesantenan karena kotanya juga makmur. Sebaliknya saudara Ki Suta yang bernama Sura Kadam ingin berbakti pada Mataram. Diapun pergi ke Mataram, ketika sedang bersiap menghadap Sultan, ada keributan. Ada seekor gajah mengamuk dan telah menewaskan penggembalanya. Sura Kadam pun berusaha mengatasi keadaan. Dia berhasil menjinakkan gajah dan menunggaginya, dia diangkat menjadi punggawa Mataram yang bertugas mengurus gajah.

Suatu hari Sura Kadam bertugas memimpin pasukan Mataram menaklukkan Kadipaten Pati. Setelah perang usai Sura Kadam pun menjenguk sudaranya di kademangan Sukolilo. Demang Sura Kerta terkejut dan ketakutan. Dia takut ditangkap dan diringkus. Sura Kadam mengetahui hal itu dan menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk menyambung tali persaudaraan dan dia sudah membaktikan diri pada Mataram. Dia minta izin supaya para prajurit diijinkan menginap di kademangan Sukolilo sambil menunggu saat yang tepat untuk kembali ke Mataram.

Sura Kadam pun mengusulkan supaya mengadakan acara semacam sekaten untuk menghormati Maulud Nabi dan memberi hiburan pada rakyat. Kemudian mereka membuat gelanggang keramaian seperti sekaten. Rakyat menyambutnya dengan gembira. Karena itulah keramaian itu disebut meron yang berasal dari bahasa jawa rame dan tiron-tiron.

Sebanyak 13 gunungan itu menjulang tinggi, lebih dari dua meter yang nampak apik dengan bagian atasnya terdapat rangkaian bunga melingkar, lengkap dengan rupa ayam di bagian tengah. Rangkaian serupa melati juga menjadi hiasan gunungan, yang ternyata itu terbuat dari ketan.

Pungkas cerita Abdul Qodir berharap dengan adanya ritual meron yang menjadi tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad  SAW bisa mengambil  berkah, bagi masyarakat Desa Sukolilo untuk merekatkan persaudaraan dan persatuan. (tim jateng7/dim@n).

 


Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments