Friday, April 24, 2020

Peringatan Hari Bumi di Kendeng Berlangsung Tegang, JMPPK Tuntut Tambang di Hentikan

foto/JT7. Peringatan Hari Bumi, JMPPK mendatangi lokasi penambangan di Dukuh Batu Gadudero Sukolilo. Mereka menolak tambang di hentikan Minggu 19/4/2020.
JATENG7/SUKOLILO PATI - Di tengah pandemi Virus Corona, para petani Kendeng tak hentinya melakukan demo untuk menolak kegiatan tambang di daerah itu.  Hal ini terjadi mereka yang mengatasnamakan kelompok “Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng” (JMPPK) ramai-ramai mendatangi lokasi tambang di Pegunungan Kendeng Utara, Dukuh Batu, Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di sana mereka membentangkan berbagai poster bernada penolakan terhadap keberadaan tambang itu. Minggu (19/4/2020).

Bambang, salah seorang pendemo yang juga merupakan petani Kendeng mengatakan, dia dan para petani Kendeng lainnya tetap berpegang pada komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan Pegunungan Kendeng. Menurutnya, sudah selayaknya semua orang mengingatkan jika ada pengrusakan alam di sekitarnya,”katanya. 

Namun beberapa hari kemudian, aksi demo itu justru berubah menjadi semakin tegang. Peristiwa itu berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Bumi sekaligus perayaan Hari Kartini Selasa (21/4). Para pendemo itu mendatangi lokasi tambang desa Kedungwinong dan Baleadi, justru mendapat makian dan pengusiran. Mereka minta aktivitas tambang dihentikan,”ujar Bambang kepada media.

Suharno, seorang petani Kendeng mengatakan, aksi demo itu dilakukan dengan tujuan aktivitas tambang itu bisa dihentikan. Menurutnya, Dasar-dasar Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di sana sudah jelas. Penambangan di tempat itu bisa berdampak buruk bagi keadaan lingkungan sekitar.

"Kalau hujan kebanjiran, kalau kemarau juga kekurangan air.  Jadi minta kesadaran walaupun semua itu sudah izin atau tidak ada izin, ya tetap harus dihentikan. Lagi pula sudah jelas, jika jarak antara pemukiman dan lokasi penambangan itu cukup dekat, maka itu tidak boleh ditambang," ujar Suharno kepada tim jateng7.com Senin (20/4/2020) kemarin.

Foto/HT7. Aksi demo Kelompok JMPPK berubah menjadi tegang mendapat makian dan pengusiran dari warga penambang, saat Gunarti minta kegiatan tambang di pegunungan kendeng dihentikan. Rabu 22/4 di Desa Kedungwinong, Baleadi dan Wegil.
Selain itu, Gunarti, aktivis Kendeng yang merupakan seorang Sedulur Sikep mengingatkan, “sudah saatnya para penambang dan semua pihak sadar dan berhati-hati terhadap kerusakan lingkungan yang telah diperbuat selama ini. "Semoga bisa menjadikan tergugahnya rasa saudara-saudara yang melakukan penambangan. Semoga mulai hari ini sama-sama berhati-hati," ucap Gunarti kepada para penambang di desa Kedungwinong dan Baleadi.

Bertepatan dengan Hari Bumi (22/4/2020), kondisi di kawasan penambangan itu menjadi tegang. Gunarti yang menjadi koordinator aksi demo justru mendapat makian dan pengusiran dari penambang. Semula Gunarti terus mengingatkan para penambang itu tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menghormati bumi.

Merasa tersentil, seorang warga yang pro terhadap penambangan di sana berkata kasar. "Ngomong dengan saya, ayo segera ngomong," ucap seorang pria berbadan besar. "Anakku kalau sampai lapar gara-gara tidak bisa ngasih makan," apa kalian bisa mencukupi, teriak warga lainnya.

Dalam peristiwa itu, Sudir Santoso dan Kiran selaku pihak penambang  bertemu langsung dengan para pendemo kelompok JMPPK. Namun para penambang itu justru ingin bertemu Gunretno, kakak Gunarti, agar konflik itu bisa diselesaikan segera.

“Mereka mengaku bersedia kalau penambangan itu ditutup, tapi syaratnya Gunretno harus datang untuk menemui para penambang itu. Gunretno sendiri selama ini dikenal sangat vokal menyuarakan kelestarian Pegunungan Kendeng,”kata Sudir.

"Tidak boleh pulang sampai Gunretno ke sini. Jika tambang ingin ditutup, saya siap menutup tapi Gunretno harus ke sini, ucap Sudir  kepada JMPPK di lokasi tambang Kedungwinong dan Baleadi Sukolilo, Rabu 22/4/2020.

Warga yang pro tambang itu sebenarnya merasa legowo dengan aksi para petani Kendeng itu yang menolak keberadaan tambang. Gunarti sendiri berkata kalau aksinya itu merupakan bentuk pengingat untuk tetap menjaga kelestarian alam, apalagi momennya bertepatan dengan peringatan Hari Bumi.
"Hanya mengingatkan kepada saudara-saudara di Gadudero bagi yang bisa diingatkan. Kalau tidak berkenan ya tidak apa-apa," ucap Gunarti terhadap para penambang.


Foto/JT7. Tampak para penambang rakyat dengan cara manual. Mereka hanya bisa mengandalkan dengan alat manual seperti linggis, pacul dan gancu dan mesin penggiling.
Menurut Sudir Santoso kepada tim jateng7.com saat menyambangi di lokasi penambangan desa Kedungwinong menjelaskan,”dengan merebaknya kasus virus covid-19, di tambah dengan himbauan  pemerintah perihal sosial distanting dan  pembatasan sosial bersekala besar. Sehingga banyak warga tidak bisa beraktifitas dengan bebas. Terjadilah banyak pengangguran di desa desa, terutama warga kecil menengah kebawah mulai terasa sudah apa yang dirasakan selama ini.

Hingga  banyak warga urban yang beralih bekerja di pertambangan batu kapur. Yang mana tambang batu kapur (padas) banyak di geluti warga yang ada  di lereng pegunungan dan sekitarnya.  Dengan adanya tambang batu padas tersebut banyak menolong warga dan harapan satu satunya untuk menyambung hidup.  Mereka hanya berbekal alat seadanya seperti pacul, gancu, linggis dan sejenisnya. Penghasilan yang didapat per/hari hanya Rp,50 -100 ribu saja. Itupun pekerjaan di lakukan dari jam 06;00 pagi  sampai jam 17:00 sore,”kata Sudir.

Di sisi lain pada hari minggu  (19/4/2020) tambang rakyat yang berada di desa Gadudero Kecamatan Sukolilo Kabupaten pati, di datangi puluhan  warga yang yang mengatasnamakan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) terdiri dari laki-laki dan perempuan bahkan ada diantara mereka adalah anak-anak ikut dalam rombongan tersebut.

Mereka  di koordinir oleh Gunarti adik dari Gunritno yang selama ini getol menolak pabrik semen dan penambang di wilayah pegunungan kendeng. “Tujuan mereka meminta   penambangan baik yang beriijin maupun tidak berijin untuk di hentikan.

Menurut penambang Muryono (45) warga desa Gadudero yang pertama kali menerima langsung sekelompok JMPPK mengatakan,” Kami tidak mau berhenti menambang, karna saya dan banyak warga disini menggantungkan hidup dari menambang padas. “Kami mau berhenti menambang jika pendemo mau mencukupi kebutuhan  kami" kata warga penambang lainya yang tidak mau di sebut namanya.

Di hari berikutnya Selasa (21/4/2020)   JMPPK  mendatangi penambang padas yang berada di desa Kedung winong, Baleadi dan Wegil Kecamata Sukolilo Kabupaten Pati.   Jumlah mereka berkurang semula 60 turun menjadi 45 orang. Tampak juga anak-anak  di bawah umur turut dalam rombongan itu. Seperti di desa sebelumnya  rombongan yang mengatasnamakan  jmppk itu membawa spaduk, Pamflet dan sejenisnya. Kedatangan pendemo bermaksut sama seperti ketika datang di desa Gadudero,  meminta supaya tambang di hentikan.

Di desa Kedungwinong  rombongan tersebut di terima oleh Kiran (57) dan Sudir Santoso (60) sebagai penambang bersama warga kedung winong dan sekitarnya. Dalam audensi antara penambang dan sekelompok pendemo yang di wakili Gunarti menjelaskan,” bahwa para penambang yang diwakili Sudir Santoso bersedia menghetikan tambang jika  Gunritno mau berdialog dan memberikan solusi para penambang,”kata Sudir.

“Atas dasar apa, Gunritno dan jmppk JMPPK minta menghentikan tambang. Beranikah Gunritno membiayai kebutuhan hidup banyak warga yang menggantungkan  dengan menggali padas, "ucap Sudir Santoso tegas. 
Dari pantauan tim jateng7.com sampai saat ini aktifitas tambang masih berjalan normal. (tim jateng7/Koce)



Comments


EmoticonEmoticon

Related Post