Friday, March 13, 2020

Ribuan Warga Kudus, Rela Berebut Banyu Panguripan Demi Raih Keberkahan

foto/JT7.  Ngalap Berkah,  ratusan warga berebut air panguripan yang diambil dari berbagai sumber mata air yang telah dikatami Alquran dan dicampuri dengan air dari Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga di halaman Menara Kudus kemarin Rabu,11/3. siang

JATENG7.KUDUS - Parade kirab Banyu Panguripan yang merupakan rangkaian acara Ta’sis Masjid Menara Al-Aqsha Kudus kembali digelar. Ratusan warga masyarakat mengikuti kirab Banyu Penguripan yang digelar dari alun-alun simpang  tujuh menuju Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Rabu (11/3/2020) siang.

Para peseta kirab berkumpul dan bersiap mengarak air dari masing-masing mbelik (sumber air dari masyarakat) menuju Menara Kudus.  Air yang diletakkan di dalam gentong itu akan disatukan dengan sumber mata air dari Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga. Dimana ketiga sumber mata air itu sudah didoakan dan telah dikhatamkan Alquran sebanyak 19 kali.

Antusiasme warga juga ditunjukan melalui perebutan air yang telah disatukan dan diyakini memiliki keberkahan. Mereka rela berdesak-desakan demi mendapatkan air yang dipercaya mengandung berkah. Sesekali para peserta menyipratkan air mbelik ke wajah dan tubuh masyarakat yang menonton di sepanjang jalan Sunan Kudus. 

Sebelum dibagikan kepada warga masyarakat, pemangku mbelik mengambil air yang sudah dicampurkan dengan ketiga sumber mata air tersebut. Air yang disatukan dalam gentong besar di atas panggung Ta’sis, diambil kembali. Guna dituangkan kembali ke gentong di setiap air dari mbelik peserta kirab. Baru setelahnya dibagikan kepada masyarakat. Panitia juga memimpin doa bersama dan tata cara sebelum meminum air yang telah disatukan tersebut.

Di samping itu, peserta yang andil dalam kegiatan kirab banyu panguripan ini bertambah. Tahun lalu hanya diikuti oleh 33 peserta mbelik. Namun pada tahun ini pesertanya bertambah menjadi 51 mbelik. Kegiatan ini juga diikuti oleh Forkopimda. Mereka juga turut diarak menggunakan delman menuju Menara Kudus.

Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Em Nadjib Hasan, menjelaskan,”kegiatan tersebut ditandai dengan pelepasan 485 merpati di panggung utama, yang dilepas secara bersama-sama. Pelepasan ratusan burung merpati itu merupakan simbol perdamaian. Menurut  Nadjib, burung merpati mempunyai makna kearifan dan kedamaian," jelas dia.

Dia menjelaskan, jumlah 485 ekor itu juga dipilih sesuai tahun pendirian Masjid Menara sesuai kalender hijriah, 19 Rajab 956 H - 19 Rajab 1441 H. "Jadi sampai sekarang masjid ini sudah berdiri sekitar 485 tahun. Setelah acara pelepasan itu selesai, dilanjutkan dengan khataman Alquran sebanyak 19 kali dan pembacaan qasidah al-barzanji di panggung utama Masjid Menara,”jelas dia.

Nadjib juga menambahkan, kirab banyu panguripan merupakan bentuk kembalinya lagi sumber mata air kepada leluhur asli Kudus, yakni Sunan Kudus. Adanya sumber air merupakan bagian dari kehidupan masyarakat sekitar. Maka dari itu pihaknya juga turut merawat sumber kehidupan tersebut.  
Ia menambahkan, air tersebut mempunyai keistimewan yang berlebih. Pasalnya sumur tersebut dibuat oleh Sunan Kudus awalnya. Untuk mengakomodasi keinginan masyarakat dalam mendapatkan air tersebut. Pihak panitia membuat kendi dan miniatur menara untuk menaruh air yang telah disatukan itu.
Langkah ini dilakukan dengan melakukan penanaman pohon di sekitar mbelik. ”Tanaman-tanaman ini diharapkan bisa tumbuh di sekitar mbelik tersebut. Karena sumber mata air tak bisa terlepas dari kesuburan yang berada di alam sekitarnya. Sebetulnya masih ada mbelik yang ingin ikut, melihat belum punya gentong, diharapkan tahun depan bisa ikut andil kembali,” harapnya.

Panitia Steering Committee (SC) Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Abdul Jalil mengatakan, kegiatan Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus akan berlangsung selama empat hari, mulai Selasa (10/3/2020) hingga Jumat (13/3/2020).

Selama kegiatan tersebut semua pengunjung juga dapat menikmati beragam kuliner zaman dulu. Pasar kuiner itu dibuka dari pukul 09.00 hingga 22.00 setiap harinya hingga selesai pada hari Jumat (13/3/2020).

Sementara itu Sekda Kabupaten Kudus Sam’ani Intakoris menyatakan air tersebut merupakan simbol persatuan yang bisa memperkokoh umat. Selain itu, air digunakan media dakwah dan obat bagi Sunan Kudus.

Maka dari itu, pihaknya meminta masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan cara menggunakan air secara bijak. Sekaligus melakukan penghijauan di sekitar lingkungan. ”Kami mengajak aksi nyata menjaga sumber mata air, dengan menggunakan air secara bijak. Sekaligus mengajak menghijaukan lingkungan,” ungkapnya.


Warga antre dengan tertib untuk mendapatkan banyu panguripan yang disimpan di beberapa gentong raksasa dan  didoakan sebelum air penguripan dibagi kepada warga.
Malam sebelum dibagikan, Banyu Panguripan yang disimpan di beberapa gentong raksasa itu didoakan. Panitia menggelar 19 khataman Alquran. Keesokan hari, banyu panguripan dikirab dari Alun-alun Simpang Tujuh menuju Masjid Al Aqsa Menara. (tim jateng7 /Koest)

Comments


EmoticonEmoticon

Related Post