Tuesday, March 3, 2020

Kirab Budaya Boyong Grobog Penanda Perpindahan Ibu Kota Kab. Grobogan Ke Purwodadi

foto/JT7. Kirab Boyong grobog, tampak Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama ajudanya menaiki delman beiring iringan  disepanjang Jalan Pangeran Puger   hingga ke Pendopo Bupati Grobogan     Selasa 3/3/2020

JATENG7.GROBOGAN - Prosesi kirab Boyong Grobog dalam rangkaian acara memperingati Hari Jadi Grobogan ke-294  yang digelar setiap tahun. Boyong Grobog adalah sebuah acara prosesi kirab perpindahan Pemerintahan dari Kelurahan Grobogan, Kecamatan Grobogan ke Kecamatan Purwodadi. Hal ini dilakukan sebagai peringatan hari jadi Kabupaten Grobogan setiap tahun tanggal 04 Maret.  Tradisi perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan dilakukan kirab dari Kecamatan Grobogan ke Kota Purwodadi, Selasa 3/3/2020.

Dalam kirab tersebut dihadiri Bupati Sri Sumarni, Sekda Sumarsono, Forkopimda, seluruh SKPD, anggota DPRD, camat, dan kepala desa seluruh Kabupaten Grobogan dengan mamakai pakaian beskap Jawa. Prosesi boyong Grobog diikuti empat gunungan dan sekitar 400 tumpeng hasil bumi dari warga. Prosesi boyong Grobog sendiri, dikuti oleh belasan kelompok seni reog, barongan, drum band, dan puluhan prajurit kerajaan. Start dari Kelurahan Grobogan sampai Kota Purwodadi.

Dijelaskan, kirab Boyong Grobog bertujuan menceritakan kembali asal mula perpindahan pusat pemerintahan yang terletak di Kecamatan Grobogan dipindah ke Kecamatan Purwodadi. Tradisi itu, juga untuk menghargai jasa para pahlawan dan upaya melestarikan budaya daerah. ”Kegiatan ini sebagai bentuk wujud uri-uri budaya daerah dan memberikan semangat gotong royong dari warga masyarakat,” ujarnya.

”Replika Grobog ini berisi pusaka, busana, dan banda. Perpindahan Grobog sebagai penanda adanya perpindahan ibu kota Kabupaten Grobogan ke Puwodadi,” kata Sekretaris Disporabudpar Grobogan Edi Santoso.

Sejarah terbentuknya pemerintahan Kabupaten yaitu pada tanggal 04 Maret 1726M yang diberi nama Monconagari oleh Adipati Martopuro atau Adipati Puger atau Pangeran Puger sebagai Bupati Pertama. Dalam perkembangannya, pemerintahan Kabupaten tersebut dipindahkan dari Desa Grobogan ke Purwodadi pada tahun 1864”Pertama kali Grobogan dipimpin oleh Adipati Pangeran Puger. Dari data yang ada Kabupaten Grobogan dengan ibu kota Grobogan pindah ke kota Purwodadi terjadi pada 1864,” tandasnya.

Sebagai bentuk apresiasi masyarakat yang cinta daerah dan budaya, maka dibuatlah konsep prosesi kirab perpindahan pemerintah dari pemerintahan yang lama (eks Kawedanan Grobogan) menuju ke pemerintahan baru Purwodadi pada tahun 2010 oleh salah seorang tokoh masyarakat Kelurahan Grobogan, dibantu oleh sahabatnya, diberilah nama / judul "Boyong Grobog".

Diceritakan, grobog adalah asal mula terbentuknya Kabupaten Grobogan. Di mana saat zaman kerajaan Majapahit ada pasukan kerajaan yang diutus untuk mengirim senjata pusaka kerajaan dan dimasukkan dalam kotak atau grobog. Rombongan tersebut kemudian bertemu dengan perampok dan mereka lari meninggalkan grobog.

Selanjutnya, oleh Sunan Kalijaga, para perampok berhasil dikalahkan dan merebut kembali grobog. Kemudian tempat tertinggalnya grobog itu dinamakan Grobog atau Grobogan. Sementara itu, pada awal terbentuknya Kabupaten Grobogan hanya meliputi beberapa wilayah saja yaitu Sela, Teras, Karas, Wirosari, Santenan, Grobogan, dan beberapa daerah di Sukowati bagian Utara Bengawan Solo dengan adipati/ bupati pertama adalah Pangeran Puger. Namun lambat laun, wilayah Kabupaten Grobogan kemudian ditetapkan menjadi seperti sekarang ini dengan jumlah 19 kecamatan.

Selain menceritakan perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan, kirab boyong grobog juga diikuti rombongan membawa empat gunungan hasil pertanian dari masing-masing desa di Kecamatan Grobogan. Gunungan tersebut mengandung filosofi agar hasil pertanian masyarakat semakin melimpah dengan diadakannya sesembahan gunungan hasil pertanian. Kemudian gunungan itu, diperebutkan oleh warga sekitar.

”Acara boyong Grobog dimulai pukul 08.00 pagi dari Kecamatan Purwodadi dan sampai di Alun-alun Purwodadi pukul 10.00 selanjutnya  prosesi serah terima di Alun-alun Purwodadi. Usai penyerahan grobog tersebut dilanjutkan dengan berdoa dan makan bersama. Ada 400-an tumpengan dari seluruh kepala desa dan camat yang makan bareng usai didoakan.  (tim jateng7/Pri/Peci).


Comments


EmoticonEmoticon

Related Post