Saturday, January 11, 2020

Sidang Tipikor, Kesaksian Agus dan Uka Beda Pengakuan Soal Penerimaan Uang Suap Bupati Kudus M.Tamzil

Foto/JT7. berseberangan: Uka Wisnu Sejati dan Agus Kroto dijadikan sebagai saksi atas perkara Muhammad Tamzil di Pengadilan Tipikor Semarang kemarin. Selasa 7/1 pukul 10.23-17.36 WIB Selasa 7/1/2020
JATENG7.SEMARANG - Perbedaan kesaksian terjadi antara dua saksi fakta yang dihadirkan KPK dalam sidang dugaan penerimaan suap terdakwa Bupati Kudus nonaktif Muhammad Tamzil di Pengadilan Tipikor Semarang kemarin. Ketidakcocokan antara kesaksian di sidang dan berita acara pemeriksaan (BAP). Sidang di gelar Selasa 7/1/2020  tergolong lama dimulai pukul 10.23 hingga 17.36 WIB.

Dalam kesaksian itu Agus Kroto atau Agus Soeranto tidak memberikan uang bagian satu (Rp 150 juta) dan dua (Rp 200 juta setelah dicecar KPK menjawab sesuai BAP Rp 225 juta) ke Tamzil. Bagian uang ketiga hanya membawa ke ruangan bupati. Jawaban uang ketiga dia ragu-ragu. Antara memberikan dan tidak, tapi kemudian dia dicecar penuntut umum KPK, dia menjawab dengan ragu-ragu Rp 225 juta. Kesaksian Uka Wisnu Sejati menjelaskan seluruh uang diserahkan ke Agus Kroto. Bagian pertama Rp 225 juta, kedua dan ketiga Rp 250 juta.

Kedua saksi itu adalah mantan ajudan Bupati Kudus Brigadir Uka Wisnu Sejati dan staf khusus Bupati Kudus nonaktif Agoes Soeranto atau Agus Kroto. Karena kesaksian kedua saksi berbeda terus, berulang kali terjadi pertanyaan penegasan. Baik dari Penuntut Umum KPK Joko Hermawan, Putra Iskandar, dan Helmi Syarif. Kemudian majelis hakim yang dipimpin Sulistyono dan salah satu kuasa hukum terdakwa Yudi Sasongko. Namun demikian dalam kesaksiannya, sama sekali tak ada raut ketakutan, melainkan sesekali justru jadi guyonan peserta sidang untuk umum.

Sidang awalnya memeriksa Uka. Dilanjut memeriksa Agus. Sekaligus keduanya dikonfrontir bersamaan. Saat bertemu itulah keduanya saling membantah kesaksian. Bahkan sesekali hakim anggota Dr Robert Pasaribu merasa aneh dengan kesaksian keduanya.

Perbedaan paling terlihat adalah masalah nominal uang yang diterima dari mantan Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus Akhmad Shofyan dan Kepala Bagian Organisasi Setda Kudus Rini Kartika Hadi Ahmawati.
”Keterangan di BAP tidak pas yang Mulia. Mungkin karena saya ndak baca. Pas di penyidikan saya juga bercerita seperti ini (di sidang, Red),” kata Agus Kroto, ketika di cecar majelis hakim.

Saat dicecar hakim, mantan Kepala Biro Administrasi Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Tengah itu awalnya mengaku hanya membawa uang ke ruang bupati untuk bagian ketiga. Sedangkan lainnya (bagian satu dan dua) tidak pernah memberikan uang termasuk bagian ketiga ke bupati. Dia hanya membawa ke ruangan bupati. Uang itu, dikatakannya setelah bagian ketiga begitu dibawakan bungkusan dari Uka. Namun begitu dicecar, akhirnya mengaku bagian ketiga memberikan ke bupati sebesar Rp 225 juta. Hanya saja, jawaban itu agak ragu-ragu dan separo seloroh menjawab pertanyaan KPK.

Mantan Kepala Biro Keuangan dan Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemprov Jateng itu, juga mengaku tidak ada perintah bupati. Agus mengaku, kalau sebenarnya ia yang awalnya ditawari Uka atas permintaan Shofyan hendak memberikan uang Rp 150 juta. ”Saya sampaikan ke Uka buat apa? Dijawab Uka untuk syukuran. Saya bilang ke bupati kalau okay. Baru saya sampaikan ke Uka, kalau pak bupati okay. Jadi yang proaktif Uka,” kata Agus.

Dalam perjalanannya, kata Agus, ada cerita untuk Rini yang siap bayar Rp 400 juta sampai Rp 500 juta. Atas permintaan Uka itu, Agus mengatakan kalau tidak bisa di tahun ini. Namun berjalannya waktu Uka mengatakan, Rini bersedia inden dan memberikan uang separoh dahulu sebesar Rp 200 juta. ”Saya sampaikan bupati, kalau Rini mau memberikan uang untuk karir ke depan. Bupati hanya senyum-senyum saja,” sebutnya.

Seingatnya, pemberian Shofyan sebanyak tiga kali itu. Pertama Rp 150 juta, kedua Rp 200 juta dan ketiga Rp 200 juta. Ia juga mengaku sempat bertanya ke Uka mengapa tidak harus dirinya sendiri ke bupati, melainkan harus perantara dirinya. Namun jawaban Uka menyampaikan kalau bupati jawabnya dingin, saat menyampaikan keinginannya itu. Agus juga mengaku, Uka pernah ketakutan terhadap bupati. Atas pemberian pertama Agus mengaku mendapatkan bagian dari Shofyan sebesar Rp 5 juta, termasuk Uka Rp 5 juta.

”Akhirnya saya ngaku ke bupati, kalau yang bawa Shofyan itu Uka. Untuk pemberian Rini seharusnya Rp 200 juta di pemberian kedua, tapi pas OTT cuma Rp 140 juta. Memang uang sempat saya tinggal 5 sampai 10 menit di ruang bupati, di bawah kursi dekat meja saya, begitu saya masuk, saya ambil lagi,” tandasnya.

Sedangkan kesaksian Uka Wisnu Sejati mengaku uang suap itu awalnya diserahkan Shofyan pertama Rp 250 juta. Karena Shofyan merasa keberatan akhirnya diserahkan Rp 225 juta. Adapun uang itu, diakuinya, sudah diserahkan seluruhnya ke Agus Suranto. ”Setelah Shofyan naik jabatan, dia menghubungi saya lagi. Ngomong istrinya sedang seleksi jabatan, kemudian saya sampaikan ke Agus untuk dipikirkan," akunya.

Selanjutnya Juni 2019, dikatakannya Agus mendatanginya, kalau istri Shofyan minta dipikirkan suruh bayar Rp 500 juta. Namun bisa dibayar dua kali. Uang itu kemudian dipenuhi Shofyan diberikan di samping rumahnya. Ditaruh tas jinjing, uangnya sebesar Rp 250 juta sebanyak dua kali. Uka mengatakan, uangnya sudah dibelikan motor trail, total bagiannya Rp 75 juta. Uka sendiri mengaku tak pernah memberikan uang ke Tamzil, melainkan melalui Agus Kroto.

"Saya dikasih bagian pertama sama Agus Rp 12,5 juta dua kali. Kemudian kedua dan ketiga masing-masing sebesar Rp 25 juta. Uang itu saya serahkan ke Agus di rumah dinas dan pendapa atau ruang ajudan,” bebernya. (tim jateng7/Koes)



Comments


EmoticonEmoticon

Related Post