Saturday, January 11, 2020

Setahun, 8 Orang di Grobogan Meninggal Karena DBD



JATENG7.GROBOGAN - Selama setahun, 8 orang meninggal dunia kerena Demam Berdarah Dengue (DBD). Sesuai data pada 2019, ada 1.035 kasus. Jumlah ini meningkat ketimbang 2018. Yakni ada 618 kasus. Tiga di antaranya meninggal dunia.

”Setiap tahun kami melakukan pemetaan daerah endemis. Ternyata di daerah timur yang tinggi mendapatkan kasus yakni Kecamatan Wirosari, Tawangharjo, Gabus, Pulokulon, Kradenan, kemudian disusul Toroh dan Purwodadi,” jelas Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Pengelolaan Program Penyakit Menular Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Gunawan Cahyono. Kamis 09/ 2020.

Sejak Juli lalu hingga Januari ini terus meningkat, karena intensitas hujan kian meningkat. ”Musim hujan seperti ini memang akan diiringi dengan meningkatnya pertumbuhan jentik nyamuk. Termasuk Aedes Aegypti, penyebab utama DBD. Banyak telur nyamuk yang menetas saat ada genangan,” jelasnya.

Maka, pihaknya menggencarkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (GSRSJ) dengan mengurangi kegiatan fogging yang menyebabkan nyamuk resisten. Baginya, GSRSJ merupakan cara ampuh, dengan mengajak petugas di Puskesmas turun langsung ke lapangan memantau jentik.

Kemudian petugas memberikan buku yang dipajang di depan rumah dan harus diisi mengenai pantauan jentik di rumah warga tersebut setiap hari. Kemudian, setiap Jumat petugas dari Puskesmas akan mengecek buku tersebut dan mencari solusi.

”Kalau mau menuntaskan kasus dari sumber jumantiknya, melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan GSRSJ. Karena telur bisa bertahan hingga satu tahun. Setelah musim penghujan dan adanya banyak genangan maka telur tersebut baru akan menetas. Inilah yang harus dibasmi,” tegasnya. (tim jateng7/Ronggo).

Comments


EmoticonEmoticon

Related Post