Saturday, November 16, 2019

Sambut Kunjungan Kepala BNPB, Bupati Sampaikan Penyebab Bencana Banjir di Pati



Dalam kunjungan kerja Kepala BNPB, Bupati Pati Hariyanto menyampaikan penyebab bencana banjir di Pati di aula kantor Kecamatan Kayen Jumat 15/11

JATENG7.PATI - Menyambut  kunjungan  kerja Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, Bupati Haryanto  menyampaikan,”tiga hal penyebab bencana banjir yang sering terjadi di Kabupaten Pati di antaranya   adalah  karena perilaku sebagian masyarakat yang membuang sampah sembarangan di sungai, penambangan secara liar dan pendangkalan sungai Juwana.


Hariyanto menjelaskan satu hal penyebab bencana banjir adalah akibat perilaku manusia membuang sampah sembarangan di sungai  berdampak pada tersumbatnya gorong-gorong, air tidak bisa mengalir, akibatnya terjadi banjir. "Seperti yang terjadi di Sukolilo kemarin, hujan hanya beberapa jam saja,  langsung banjir,”ujarnya kepada kepala  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo  saat kunjungan kerja di Kabupaten Pati di Aula Kantor Kecamatan Kayen, Jumat (15/11).

Namun, demikian, Haryanto  tidak menampik bahwa  ada penyebab banjir lainnya di Kabupaten Pati  yang menjadi sorotan utama ialah kondisi Pegunungan Kendeng dan Sungai Juwana. Terkait Pegunungan Kendeng,  banyak aktivitas penambangan liar di pegunungan yang meliputi tiga Kecamatan yakni: Sukolilo, Kayen, Tambakromo.

Lebih lanjut  Hariyanto menjelaskan, meski penambangan berizin juga ada, penambang liar pun jumlahnya cukup banyak. Terkait perizinan tambang,  kini menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Kemudian, hutan gundul di sepanjang Pegunungan Kendeng tidak hanya kali ini terjadi, melainkan sudah berpuluh tahun, kemudian reboisasi tidak berhasil," bebernya.

Pada kesempatan itu, Hariyanto  mengisahkan soal  pro-kontra pembangunan pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng.  “Memang dulu ada rencana pembangunan pabrik semen. Namun sampai   sekarang, meski sudah ada DED (Detail Engineering Design) dan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), belum ada tindakan lanjutan,”ujarnya.

"Pro kontra seringkali muncul, namun sesuai analisis dampak lingkungan, pembangunan itu rencananya tidak di cekungan air. Hal ini seringkali dipersoalkan, padahal sampai sekarang belum ada tindakan. Hanya dulu pernah sekali dilakukan kajian Amdal. Dan kita juga tidak akan merusak lingkungan yang sudah ada," tegas Haryanto.

Terkait kondisi Sungai Juwana, Hariyanto  menjelaskan, pendangkalan pada sungai sepanjang 60 kilometer tersebut ialah satu di antara pangkal penyebab banjir di Pati. Ia menjelaskan, ada 26 anak sungai yang mengalirkan air ke Sungai Juwana. Dengan kondisi Sungai Juwana yang tengah mengalami pendangkalan,  tentu pada musim hujan air akan meluber dan mengakibatkan banjir,”ungkapnya.

Untuk tahun 2019 sudah dinormalisasi hilirnya oleh BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana). Hulunya belum, karena baru mendapatkan anggaran Rp 40 miliar. Rencana 2020 BBWS mendapatkan kurang lebih Rp 100 miliar untuk melanjutkan normalisasi. Tapi, ini belum terasa (belum maksimal) karena dengan panjang 60 kilometer, untuk menormalisasi seluruh sungai, butuh anggaran Rp 1 triliun," tutup Haryanto dalam sambutanya. (tim jateng7/Peci)


Comments


EmoticonEmoticon

Related Post