Friday, September 20, 2019

Ratusan Warga Kalikalong Tayu Berunjuk Rasa Tolak Program Pamsimas



Aksi demo warga desa Kalikalong Tayu Pati tolak program Pamsimas di depan rumah Kades Kamis 19/9
Jateng7.Pati - Program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) di Desa Kalikalong Kecamatan Tayu, menuai polemik .  Sebanyak 400 orang lebih warga desa tersebut menggelar aksi unjuk rasa di depan rumah Kepala Desa Choirul Anam, “menentang dan memprotes pelaksanaan pekerjaan proyek Pamsimas  karena dinilai sepihak, Kamis (19/9/2019).



Aksi unjuk rasa yang melibatkan para pemuda, orang tua bahkan ibu-ibu itu, mendapat pengamanan dan pengawalan ketat ratusan personel Polres Pati lengkap dengan mobil water canon, 1 unit mobil satwa dan mobil tahanan. Disiapkan pula mobil dokkes untuk mengantisipasi kejadian tidak diinginkan.

Pengamanan dibantu aparat TNI dan Satpol PP Kabupaten Pati. Koordinator aksi, Sunaryo dalam orasi menggunakan megaphone menegaskan, “tetap pada pendirian menolak Program Pamsimas. "Oleh karena itu, kita hari ini menentang dan memprotes pekerjaan pengeboran Pamsimas", tegas Sunaryo.

“Hal itu dilakukan, karena belum ada keputusan atas mediasi yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten  (Pemkab) Pati pada 3 September lalu bertempat di Ruang Pragolo Setda Pati, terhadap permasalahan tersebut.

Menurut Sunaryo, pekerjaan proyek Pamsimas oleh Pemdes (Pemerintah Desa) Kalikalong melalui Satlak (Satuan Pelaksana) dan KKM (Kelompok Kerja Masyarakat), dinilai sepihak dan memaksakan kehendak.
"Maka kita minta supaya pekerjaan dihentikan, karena belum ada keputusan paska mediasi", lanjut Sunaryo yang mendapat sorak - sorai dukungan peserta aksi. Disebutkan, peserta aksi yang tinggal di wilayah mulai Rw. 01 hingga 05,  mayoritas menolak Program Pamsimas.

Mereka mengaku tidak membutuhkan air dari Pamsimas, karena menurutnya, hal itu justru membebani dengan adanya beaya sambung dan rekening meter air. "Warga Kalikalong selama ini tidak pernah kekurangan air, jangan paksa kami", ujar Sunaryo.

Apabila setelah yang dilakukan itu (unjuk rasa), tetap tidak mendapat respon dari para pemangku kepentingan, pihaknya akan meminta audiensi   kepada DPRD Kabupaten Pati. "DPRD sebagai Rumah Rakyat, menjadi tujuan akhir menyampaikan aspirasi ini. Bila tetap tidak didengar, biarlah Angin Berlalu yang mendengarkan kita", tegas Sunaryo.  

Dalam situasi itu, dengan yel-yel, massa sempat meminta Kades Choirul Anam untuk keluar menemui mereka dan meminta tanggapan atas tuntutan itu. Namun Choirul Anam tidak bersedia menemui pengunjukrasa. Hingga, akhirnya Sekcam  (Sekretaris Kecamatan) Subagyo yang hendak bicara mewakili kades, ditolak dengan keras oleh massa.

Selama hampir 2 jam aksi berlangsung, dimulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB akhirnya massa membubarkan diri  dengan tertib tanpa anarkis. Selanjutnya, Muspika Tayu mengambil inisiatif dilakukan pertemuan para pihak di pendopo kecamatan setempat.

Pertemuan itu juga tidak membuahkan hasil dalam bentuk suatu keputusan. Namun Camat Tayu melalui Sekcam  Subagyo, mengatakan akan membawa persoalan ini ke Pemerintah Kabupaten Pati. (tim jateng7/HS).




Comments


EmoticonEmoticon

Related Post