Jateng7


Daerah

Polres Jepara

Polres Pati

TV Jateng7

Pati


Video

Sunday, September 26, 2021

Nekat Gelar Orgen Tunggal Masa PPKM, Hajatan Pernikahan di Tompegunung Sukolilo Dibubarkan Petugas

 

GB. Jajaran Muspika Sukolilo bubarkan  hajatan dirumah Sugiono yang menimbulkan kerumunan masa, di Desa Tompegunung Sukolilo Rabu (22/9) malam

JATENG7.SUKOLILO. - Nekat gelar hajatan yang menimbulkan kerumunan massa, seorang warga Dukuh Jrakah, Desa Tompegunung, Kecamatan Sukolilo masih memaksakan menyelenggarakan hajatan pernikahan putrinya dengan dimeriahkan  hiburan orgen tunggal, akhirnya dibubarkan petugas.  

Sebelumnya, sudah diperingatkan, jangan menyelenggarakan hajatan, utamanya dengan menyajikan hiburan. Akan tetapi karena nekat terpaksa dibubarkan oleh Polsek Sukolilo bersama jajaran Muspika setempat.

Hal tersebut dibenarkan Kapolsek Sukolilo Iptu Sahlan SH MM, ketika dimintai keterangan melalui via tlp  Jumat 24/9 /2021 membenarkan, untuk pembubaran hiburan orgen tunggal di tempat orang punya hajat pernikahan berlangsung malam  bertempat di rumah Sugiono warga Dukuh Jrakah, Desa Tompegunung, Kecamatan Sukolilo, Rabu (22/9/2021) sekitar pukul 20.45. WIB.

Sebab, sampai saat ini Kabupaten Pati masih melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Msayarakat (PPKM) Level 2 sebagaimana Instruksi Bupati (Inbup) No 14 Tahun 2021 tentang Perpanjangan PPKM Lavel 2 Jawa-Bali mulai 20 September s/d 3 Oktober 2021.

Dengan demikian, semua kegiatan masyarakat yang berdampak menimbulkan kerumunan, seperti orang punya hajat dan hiburannya, tetap dibatasi. Semisal, untuk hajat pernikahan diperbolehkan tapi dibatasi di dalam gedung dengan jumlah tamu undangan maksimal 50 orang  dengan prokes ketat, serta waktunya pun maksimal hanya 2 jam, karena jika dilaksanakan di rumah pasti tidak terkontrol.

Demikian pula untuk para pelaku seninya juga diberi kesempatan, jika mendapat job dari orang yang punya hajat, tapi hiburan yang digelar juga harus berlangsung di dalam gedung dengan durasi 2 jam. ”Selain itu para pelaku seni yang bersangkutan juga harus sudah dilakukan vaksinasi, sehingga yang ada dalam gedung tersebut juga hanya 50 orang, serta menggunakan aplikasi peduli lindungi,”tandasnya.

Sebelum melakukan pembubaran hiburan orgen tunggal itu, pihaknya juga menyampaikan imbauan kepada para pengunjung dan juga tuan rumah, bahwa semua itu merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh seluruh warga.

Tujuannya, adalah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, sehingga warga harus mematuhinya, agar masa pandemi bisa segera berakhir dan masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan secara normal, tanpa ada lagi pembatasan.

Karena itu, lebih warga harus mematuhinya agar situasi dan kondisi pada masa pandemi Covid-19 ini segera berakhir, sehingga PPKM tidak diberlakukan lagi. Mengingat Pati masih berada pada level 2, maka masih ada proses yang harus tetap dipatuhi agar bisa turun ke level 1, dan sampai Pati benar-benar bersih atau zero dari penyebaran Covid-19.

Untuk mencapai hal itu, semua warga harus mematuhi ketentuan yang sekarang masih berlaku, yaitu PPKM sehingga jika pihaknya membubarkan hiburan di tempat orang punya hajatan itu, karena pelaksanaannya memang tidak sesuai ketentuan. Menyikapi semua itu, baik pengunjung maupun tuan rumah bisa memahami dan menerima tindakan yang diberlakukan, sehingga hal itu agar menjadi perhatian bagi warga lainnya.

Dengan kata lain, jika ada yang hendak mempunyai hajat apa lagi dimeriahkan hiburan siapa pun mereka harus berkonsultasi dengan kepala desa masing-masing, dan kepala desa itu memahami apa saja ketentuan yang berlaku. ”Jika warga abai terhadap hal itu dan masih tetap memaksakan diri, risikonya tentu seperti yang terjadi di Tompegunung semalam, pasti kami bubarkan,”tutupnya. (jateng7.co/Dim@n).

Friday, September 24, 2021

Bantu Bedah Rumah, Kapolres Jepara Letakkan Batu Pertama

 

Kegiata soasial Polres Jepara bantu bedah rumah di Desa Damarjati Jepara Jumat (24/9)

JATENG7.JEPARA - Kapolres Jepara AKBP Warsono, SH., SIK., MH, dalam aksi sosialnya melakukan peletakan batu pertama di rumah ibu Sutipah dan ibu Legimah untuk melakukan peletakan batu pertama dalam rangka kegiatan bedah rumah yang dilaksanakan oleh Polres Jepara dibantu pemerintah desa dan elemen masyarakat di Desa Damarjati Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jumat (24/09/2021).

Peletakan batu pertama bedah rumah di desa Damarjati ini dihadiri langsung oleh Kapolres Jepara didampingi pejabat utama dan anggota Polsek Kalinyamatan Polres Jepara serta Ketua Bhayangkari Cabang Jepara.  Kegiatan ini berkolaborasi dengan pemerintah desa setempat serta elemen masyarakat.

Kapolres Jepara menyampaikan bahwa, keluarga besar Polres Jepara mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu atas terlaksananya kegiatan ini, mudah mudahan kegiatan bedah rumah ini bermanfaat buat keluarga ibu Sutipah dan ibu Legimah.

Saya berharap dengan kegiatan ini agar kita semua peduli dengan situasi yang ada disekitar kita supaya kita bisa membantu saudara yang masih membutuhkan untuk kita bantu.  Untuk sasaran bedah rumah kali ini sesuai dengan sasaran melihat dari kondisi bangunan yang kurang layak huni.  Dan semoga kegiatan yang bermanfaat ini bisa kita selesaikan tepat waktu dan tidak terjadi halangan dalam prosesnya.

 GB. Peletakan batu pertama dalam rangka kegiatan bedah rumah yang dilaksanakan oleh Polres Jepara 

Sementara itu Kepala Desa Damarjati Kasno mengucapkan terimakasih kepada Kapolres Jepara berserta jajarannya yang bersedia membantu warga Damarjati.  "Saya atas nama pemerintah desa Damarjati sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan kali ini dan semoga bisa bermanfaat", jelas  Kasno. (jateng7.co/Giarto).

Sunday, September 19, 2021

Polres Jepara Gelar Ops Patuh Candi 2021, Guna tingkatkan Prokes dan Tertib Berlalulintas

 

JATENG7.JEPARA - Kapolres Jepara AKBP Warsono, SH., SIK., MH pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Candi 2021, di lapangan Apel Endra Dharmalaksana Polres Jepara, Senin (20/9/2021) pagi.

Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Candi 2021 ini dihadiri pejabat utama, Kapolsek Jajaran, Personel Polres Jepara, Personel TNI dari Kodim 0719 Jepara dan perwakilan Satpol PP Kabupaten Jepara.

Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Candi 2021 menandai akan dilaksanakannya kegiatan operasi patuh yang akan digelar selama 14 hari mulai tanggal 20 September hingga 03 Oktober 2021, ditandai dengan penyematan pita operasi kepada perwakilan peserta apel.

Kapolres Jepara dalam amanatnya menyampaikan bahwa kita harus menerapkan Protokol kesehatan dalam setiap aktivitas yang kita laksanakan. Tujuan pelaksanaan Operasi Patuh Candi 2021 adalah meningkatkan kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas di jalan raya, meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.

Serta, Patuhnya Masyarakat terhadap protokol kesehatan di tengah mewabahnya pandemi covid-19. Kegiatan operasi patuh dilaksanakan selama 14 hari mulai tanggal 20 September sampai dengan 3 Oktober 2021.

Lebih lanjut Kapolres menerangkan bahwa saat ini pemerintah masih terus berjuang dalam menekan penyebaran covid-19 melalui berbagai kegiatan untuk memutus mata rantai Covid 19.

Semua kegiatan dalam Ops patuh candi dilaksanakan secara simpatik dan juga akan dilaksanakan kegiatan baksos untuk mengurangi beban masyarakat, pungkasnya. (jateng7.co/Gi@rto).

 

 

 

Friday, September 17, 2021

Tim Resmob Polres Pati Berhasil Bekuk 5 Pelaku Curanmor di Wilayah Kab.Pati

 

JATENG7.PATI - Tim Resmob Polres Pati berhasil bekuk lima pelaku pencurian motor (curanmor) yang beraksi di wilayah Kabupaten Pati. Bahkan, salah satu pelaku terpaksa dilumpuhkan Polisi karena sempat melakukan perlawanan saat dilakukan penangkapan.

Kapolres Pati AKBP Christian Tobing saat konferensi pers mengatakan, lima pelaku ini salah satunya ada yang residivis, yakni inisial M alias Jemblung. Pelaku sudah melakukan pencurian motor di enam tempat kejadian perkara, yakni di Pati Kota, Wedarijaksa, Juwana dan Jaken.

“Saat dilakukan penangkapan salah satu pelaku M ini mencoba melawan petugas, sehingga petugas kami ambil tindakan tegas dengan menembak guna melumpuhkan. Pelaku ini juga residivis,” kata Kapolres Pati, Jumat (17/9/2021).

Kapolres menambahkan, selain M, Polisi juga menangkap pelaku lain berinisial RA yang melakukan pencurian motor di daerah Kayen, dan Wedarijaksa dengan barang bukti dua unit motor. Kemudian pelaku berinisial AP, SR dan HP yang melancarkan aksinya di wilayah Pati kota. Ketiga tersangka ini mencuri motor dengan modus merusak bagian kunci untuk kemudian dibawa kabur.

“Kelima pelaku modusnya beda-beda, ada yang dengan cara merusak kunci motor, ada yang mencuri dari parkiran dan ada yang mencuri di rumah korban,” ujar Kapolres saat konferensi pers di Mapolres Pati.

Dalam pengembangan petugas ditemukan sebanyak sepuluh TKP yang lain. Ini merupakan hasil kerja sama pengungkapan kasus bersama dengan Resmob Polda Jateng. Dua tersangka berhasil diamankan, tetapi mereka dibawa ke Polda Jateng beserta dengan barang bukti.

Sekian banyaknya kasus curanmor tersebut, lanjut kapolres, paling banyak memang terjadi di pedesaan. Modusnya, tersangka mengambil motor yang kuncinya masih tergantung di motor. Tersangka menunggu korban lengah untuk kemudian motor diambil.

“Perlu diwaspadai, saat ini Desa pada malam banyak motor yang diparkir sembarangan, terkadang ditaruh di depan rumah. Bahkan kuncinya juga masih tertinggal. Nah, semacam ini yang menjadi incaran para tersangka ini,” tandasnya. (jateng7.co/S.dim@n).

Cinta Tak Direstui, Pemuda di Grobogan Nekat Gantung Diri di Garasi Mobil

 

JATENG7.GROBOGAN - Cinta tidak direstui menjadi penyebab pria asal Kabupaten Grobogan nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Pria berusia 25 tahun yang merupakan warga Dusun Cabeyan, Desa Ngraji, Kecamatan Purwodadi itu nekat gantung diri di garasi rumahnya dan baru diketahui pihak keluarga pada pukul 06.00 WIB, Kamis (16/9 2021).

Dari informasi yang dihimpun, jasad pria bernama WK ini diketahui kali pertama oleh ibu kandungnya UK (45) saat hendak membersihkan rumah dan masuk ke dalam garasi mobil. Namun, masuk ke dalam garasi mobil, UK berteriak histeris saat melihat putranya WK, telah tergantung pada tali yang sudah terikat pada blandar kayu.

Teriakan ibu korban didengar R (58) ayah korban bersama tetangga lainnya. Mereka lalu bergegas menuju ke tempat sumber teriakan tersebut. Salah satu warga langsung melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolsek Purwodadi.

Dengan adanya laporan dari warga, pihak unit Inafis Polres Grobogan beserta tim Reskrim Polsek Purwodadi langsung menuju ke lokasi kejadian bersama tim medis dari Puskesmas Purwodadi II.

Adanya peristiwa gantung diri ini dibenarkan Kapolsek Purwodadi AKP Saptono Widyo. Saat dikonfirmasi Media, AKP Sapto Widyo menjelaskan, korban ditemukan terikat dengan tali plastik warna biru dengan model simpul hidup yang terikat di leher dan tali bagian atas blandar rumah.

Hasil pemeriksaan medis menyebutkan terdapat bekas jeratan tali pada leher, mulut mengeluarkan buih dan lidah tergigit. Tidak ditemukan luka luka akibat kekerasan lainnya,” ujar Kapolsek AKP Sapto.

Petugas juga melakukan pemeriksaan terhadap orang tua korban. Dari penuturan keduanya, korban memang punya permasalahan dengan orang tua kekasihnya yang tidak mau merestui hubungan mereka. Kemungkinan masalah tersebut yang menjadi penyebab korban gantung diri,” ujar AKP Sapto.

Usai dilakukan pemeriksaan luar, pihak keluarga menyatakan ikhlas atas kepergian korban dan menolak untuk dilakukan visum.  Setelah diperiksa, jasad korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dilakukan pemakaman menurut adat istiadat setempat.

Adanya insiden ini membuat Kapolsek mengimbau kepada masyarakat agar tetap mendampingi anggota keluarganya yang memiliki masalah sehingga tidak sampai melakukan perbuatan nekat, seperti gantung diri.

“Usahakan untuk meminimalisir perbuatan perbuatan yang tidak diinginkan seperti gantung diri saat mengalami masalah. Pihak keluarga harus bisa mendampingi mereka yang sedang punya beban hidup permasalahan. Atau bahkan, ketika mereka tidak bisa terbuka, tetap terus dipantau,” ujar AKP Sapto.

Seorang pria berinisial WK melakukan perbuatan nekat yakni gantung diri hingga tewas di dalam garasi mobil rumahnya. Pihak keluarga menduga, WK nekat melakukan aksi gantung diri lantaran hubungan cintanya tidak direstui oleh orang tua sang kekasih. (jateng7.co/S.Priadi).

 

 

Thursday, September 16, 2021

Operasi Yustisi, Tim Gabungan Jaring 102 Orang, 6 Pemandu Karaoke di Pati Positif Covid-19

 

GB. Operasi Yustisi tim gabungan grebek  102 pemandau karaoke dan pengunjung Kamis 15/9

JATENG7.PATI - Tim gabungan Polres Pati dan Satpol PP berhasil menggerebek dan mengamankan 102 orang yang terdiri dari pemandu karaoke dan pengunjung. Pengamanan ini merupakan hasil operasi yustiti yang dilaksanakan petugas pada Kamis (15/9/2021) dini hari di wilayah Kecamatan Juwana dan Kecamatan Pati.

Setelah kesemuanya diamankan ke Sat Sabhara Polres Pati, mereka pun mengikuti tes swab. Dari 102 orang yang terjaring, 6 orang diantaranya dinyatakan positif covid - 19. Bupati Pati Haryanto beserta Kapolres AKBP Christian Tobing dan Kasatpol PP Sugiyono meninjau pelaksanaan swab massal tersebut, Kamis (16/9/2021) sore.

“Sekalipun sudah ada Inmendagri maupun inbup tentang larangan hiburan, khususnya karaoke, masih ada beberapa yang nekad buka. Tadi malam petugas menemukan di Karaoke Alaska, Maharani, Diva, Dewa 9, dan Romantika. Ada 102 orang yang terjaring,” kata Haryanto.

Setelah dilakukan tes swab, kata Haryanto, enam orang diketahui positif Covid-19. Mereka langsung dibawa ke RSUD Soewondo Pati untuk diisolasi. "Saya berterima kasih pada Pak Kapolres dan jajarannya, begitu pula Kasatpol PP yang tak henti - hentinya selalu berupaya memutus mata rantai covid - 19 melalui operasi yustisi", ujar Bupati.

Pihaknya pun berharap kepada semuanya agar dapat memahami kondisi yang ada saat ini. Pemerintah Kabupaten mengatur kebijakan sedemikian rupa agar penyebaran covid - 19 tidak meluas.

"Memang saat ini kondisinya melandai, namun apabila kita semua tidak hati - hati Kabupaten Pati yang saat ini sudah berstatus level II, bisa malah meningkat karena kelalaian. Saya kan sudah berjanji, baik Inmendagri maupun Inbup yang ada saat ini sudah mulai memberikan kelonggaran aktivitas", jelasnya.

Adapun kelonggaran yang dimaksud meliputi, pembelajaran tatap muka secara terbatas dan bertahap, tempat ibadah yang awalnya tidak diperkenankan sekarang diizinkan dengan kapasitas terbatas. Begitu pula dengan warga yang berencana menikah, yang tadinya hanya boleh di KUA, sekarang sudah boleh di rumah dengan batasan - batasan.

Dia menambahkan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada mereka yang terjaring razia. Sebab diindikasikan ada sejumlah orang yang terjaring razia berulang kali.

Ia juga menyayangkan pengelola karaoke yang membandel. Padahal pihaknya sudah memutus aliran listrik di tempat-tempat karaoke. Namun mereka masih saja bersiasat untuk tetap beroperasi. (jateng7.co/Dim@n).

Diduga Depresi, Wanita Paruh Baya di Grobogan Ceburkan Diri ke Sumur

 

Gb. Ilustrasi jenazah seorang wanita yang meninggal akibat bunuh diri dalam sumur di Toroh Grobogan Selasa (14/9)

JATENG7.GROBOGAN - Masyarakat Desa Genengadal, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dikejutkan dengan penemuan jasad perempuan yang mengapung di dalam sumur, Selasa (14/9/2021).

Kapolsek Toroh AKP Darmono mengatakan, dari hasil pemeriksaan kepolisian diketahui  identitas jasad tersebut yaitu Nurwakiyah (44), warga Desa Genengadal. Jasad wanita separuh baya itu ditemukan mengambang di sumur tak jauh dari rumahnya pada siang sekitar pukul 14.00. WIB.

Sebelumnya, sejak pagi yang bersangkutan sempat dicari keberadaannya oleh keluarganya lantaran tidak berada di rumah. Hingga akhirnya, tetangga menemukannya di dalam sumur sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Kejadian naas tersebut kemudian dikabarkan kepada keluarga korban, perangkat desa, dan pihak kepolisian. "Korban ditemukan meninggal dunia di dalam sumur milik adiknya," kata Darmono.

Menurut Darmono, upaya evakuasi jasad korban cukup terkendala menyusul lokasi sumur sempit dan dalam. Evakuasi jasad korban akhirnya rampung pada sore sekitar 15.30 setelah diterjunkan tim SAR BPBD Grobogan.

Dari hasil pemeriksaan medis pada fisik korban tidak ditemukan unsur kekerasan atau bekas penganiayaan. Jenazah korban kemudian diserahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan. "Keluarga korban ikhlas menerima dan menolak untuk diotopsi," kata Darmono.

Darmono menjelaskan, merujuk keterangan pihak keluarga, korban diketahui memiliki riwayat depresi karena permasalahan ekonomi. "Sepekan yang lalu korban sempat akan menceburkan diri ke sumur milik warga. Namun, gagal karena ketahuan keluarganya," pungkas Darmono.  (jateng7.co/S.Priadi& Moh.Zaedun).

 

 


Daerah Grobogan

Peristiwa Tambang

Teknologi