Monday, January 20, 2020

Pemkab Pati Resmian BLK Ponpes, Untuk Meningkatkan Perekonomian



Bupati mengapresiasi pendirian BLK komunitas di ponpes Al Ikhlas desa Panjunan. hal ini membantu pemerintah dalam rangka mengurangi angka pengangguran dan mengurangi angka kemiskinan, Minggu 19/1
JATENG7.PATI - Minggu (19/1/2020) Bupati Pati Haryanto hadiri pengajian umum dalam rangka Maulid Nabi sekaligus peresmian Gedung Workshop Pengolahan hasil pertanian Balai Latihan Kerja Komunitas  (BLK) Pondok Al Ikhlas di Desa Panjunan, . Turut hadir Pengajian tersebut Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin,  Kapolres Pati, Dandim 0718/Pati, Anggota DPR RI dan DPRD Kabupaten Pati.
  Bupati Pati Haryanto hadiri pengajian  sekaligus peresmian Gedung Workshop Pengolahan hasil pertanian Balai Latihan Kerja Komunitas  (BLK) Pondok Al Ikhlas di Desa Panjunan,
Dalam sambutanya, Bupati mengapresiasi pendirian BLK komunitas di ponpes Al Ikhlas. Dengan adanya BLK di ponpes, menjadi nilai lebih untuk para santri. Mereka tak hanya memiliki ilmu keagamaan saja, tapi juga punya ilmu ketrampilan sesuai bidang masing-masing. "Sehingga hal ini membantu pemerintah dalam rangka mengurangi angka pengangguran dan mengurangi angka kemiskinan," ujarnya.

Berkaitan dengan BLK komunitas di pondok pesantren, Bupati mengimbau pihak ponpes untuk bekerja sama dengan BLK Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten Pati dalam penyelenggaraan pelatihan. "Karena kami juga punya anggaran dari pemerintah pusat, provinsi dari pemerintah daerah yang banyak sekali melaksanakan pelatihan. Mulai dari tata boga, tata rias kemudian juga kelas pertukangan dan lain-lain ada dan semuanya tidak diambil biaya justru pulang malah mendapatkan uang saku," jelas Bupati.

Bupati juga meyakinkan kepada para orang tua agar tidak khawatir untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren. "Karena sekarang di ponpes juga dibekali dan dapat mengembangkan keterampilan dan keahlian masing-masing," tuturnya.

Sementara itu Wakil Gubernur Taj Yasin mengungkapkan," jumlah BLK komunitas pondok pesantren di Jawa Tengah pada tahun 2019 adalah 1.113 workshop. Sedangkan di tahun 2020, akan ditambah 2 ribu BLK Ponpes,"ungkapnya.

Wagub mengatakan, Pemprov Jateng siap melakukan pendampingan pelatihan untuk kemajuan BLK di ponpes Al Ikhlas Pati. "Penempatan BLK di ponpes sudah tepat. Sesuai ajaran Rasulullah SAW untuk kemandirian. Di Jateng masih ada 500-600 ponpes yang harus mandiri," imbuhnya.

Lebih lanjut Taj Yasin mengatakan pendirian BLK di pondok pesantren saat ini, merupakan instruksi dari Presiden RI. Maka pemerintah provinsi, ke pemkab atau pemkot bahkan sampai ke desa harus satu jalur satu arah dengan pemerintahan pusat.

"Garis besarnya SDM Unggul Indonesia Maju. Dimana kita sekarang tidak hanya pembangunan infrastruktur saja melainkan mulai pengembangan atau membuat sumber daya manusia yang memiliki misi dan visi dalam pembangunan," pungkasnya. (tim jateng7/Hadi)

Tahun Ke Tiga, Pemkab Pati Gelar Evaluasi Transaksi Non Tunai

 Foto.Bupati Haryanto buka forum Evaluasi Transaksi Non Tunaidi Hotel Grand Artos Magelang, Jumat (17/1/2020) malam
JATENG7.PATI - Forum Evaluasi Transaksi Non Tunai Pemerintah Kabupaten Pati dilaksanakan di Hotel Grand Artos Magelang, Jumat (17/1/2020) malam. Bupati Haryanto saat membuka forum ini mengatakan implementasi transaksi nontunai Pemkab Pati di tahun 2020 ini memasuki tahun ketiga. Penerapan transaksi nontunai di lingkungan pemerintah, menurut Bupati bertujuan agar tidak terjadi penyimpangan.
  Pemkab Pati bersama Bank Jateng berikan reward kepada tiga OPD dengan prosentase penggunaan non tunai terbaik. Tiga posisi teratas ditempati Dinas Arpus, DPUTR dan Disdikbud, Jumat 17/1
"Persoalan keuangan di daerah-daerah lain karena biasanya masih dikelola secara tunai. Sedangkan Kabupaten Pati termasuk kabupaten pertama di Jawa Tengah yang menerapkan transaksi nontunai. Kalau pemerintah kota, ada yang sudah duluan, diantaranya Salatiga dan Semarang," terang Bupati.
Haryanto berharap, iktikad baik yang sudah berjalan dalam menghindari penyelewengan di lingkungan birokrasi dapat terus dijalankan dan ditingkatkan.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pati Suharyono menyebut, transaksi nontunai ada keuntungannya yaitu semua bisa dilihat, aliran uang dari bendahara lari ke mana bisa kelihatan semuanya. Ia mengungkapkan dengan transaksi nontunai dalam penarikan retribusi memiliki andil besar.  "Dulu banyak kebocoran, namun semenjak transaksi nontunai, retribusi seperti di pasar bisa masuk ke kas daerah secara maksimal," imbuhnya.

Menurut Suharyono masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan dalam hal penerapan transaksi nontunai di Kabupaten Pati. Mengingat Kabupaten Pati memiliki wilayah yang cukup luas dibutuhkan sarana prasarana yang memadai. "Dibutuhkan IT, serta dukungan sarana prasarana, begitu juga SDM. Percuma teknologi maju kalau SDM-nya tidak menguasai," katanya.

Adapun perkembangan kebijakan terkait transaksi nontunai yang akan dilaksanakan pada 2020 ini disampaikan oleh kepala BPKAD Pati Turi Atmoko. Diantaranya ia menyampaikan, mulai Februari 2020 pembayaran gaji langsung dari Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) ke rekening masing-masing ASN.

"Dalam hal pemotongan gaji yang selama ini dilakukan bendahara gaji, serta rekomendasi terkait hutang pada lembaga keuangan nantinya tidak lagi diberikan oleh bendahara gaji dan kepala OPD akan tetapi berkomunikasi dengan Bank Jateng", ucapnya.

Terkait hal ini, lanjut Turi, akan dilaksanakan MoU antara Sekda dan Direktur Bank Jateng untuk pelaksanaan rekening PAKK, yang selama ini diterimakan oleh bendahara gaji, ke depan pengelolaannya untuk peningkatan SDM.

Karena bendahara gaji tidak lagi membagi gaji kepada ASN di OPD-nya, dan dengan demikian aktivitas terkait hal ini berkurang, ia berharap para bendahara gaji lebih berfokus pada pencermatan gaji dan tunjangan keluarga yang diterimakan pada seluruh ASN.

"Karena selama ini masih ada kelebihan bayar, utamanya tunjangan anak. Sampai anaknya sudah menikah, sudah bekerja, masih dapat tunjangan. Akhirnya nanti mengembalikan beberapa bulan. Sampai kurang lebih satu tahun sebelum pensiun baru ketahuan. Kami harap bendahara gaji lebih fokus mencermati hal ini," pungkasnya.

Untuk mengapresiasi kinerja bendahara, Pemkab Pati bersama Bank Jateng memberikan reward kepada tiga OPD dengan prosentase penggunaan non tunai terbaik. Tiga posisi teratas ditempati Dinas Arpus, DPUTR dan Disdikbud. (tim jateng7/Dim).

Saturday, January 18, 2020

Kisah Runtuhnya Kerajaan Agung Sejagad Purworejo Jawa Tengah



  Foto. Raja dan Permaisuri Keraton Agung Sejagat, Totok Santosa dan Fanni Aminadia sudah berakhir
JATENG7.PURWOKERTO - Masyarakat sempat dihebohkan dengan hadirnya kerajaan baru di Indonesia, yaitu Keraton Agung Sejagat. Diketahui kerajaan tersebut terletak di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kerajaan ini mulai ramai dibicarakan setelah viral muncul foto-foto mengenai kirab budaya serata wilujengan yang diadakan pada 10-12 Januari 2020.

Mengutip dari berbagai sumber, dalam jumpa pers di ruang sidang Keraton Agung Sejagat ini disebut-sebut memiliki raja dan ratu, yaitu Totok Santoso Hadiningrat dan Kanjeng Ratu Dyan Gitarja. Selain itu, mereka juga mengatakan memiliki 13 menteri. Pimpinan Keraton Agung Sejagat atau dipanggil Sinuhun tersebut mengatakan keberadaannya adalah menuanikan janji 500 tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit tahun 1518.

“Keberadaan kami adalah menunaikan janji 500 tahun dari runtuhnya Kerajaan Majapahit tahun 1518. Wilujengan Keraton Agung Sejagat ini adalah untuk menyambut kehadiran Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke Jawa,” kata Totok kepada media.

KAS menjadi satu-satunya kerajaan di dunia yang cukup nyentrik dan aneh. Kerajaan ini muncul atas klaim sepihak. Meskipun mereka mengaku sebagai penerus Kerajaan Majapahit, tak ada satu pun bukti yang memperkuatnya. Kalau toh sebagai penerus Kerajaan Majapahit kenapa tidak berlokasi di Mojokerto justru malah ngumpet di desa.

Fakta nyeleneh   ada pada Keraton Agung Sejagat yaitu ada sebuah batu yang terletak di dalam keraton tersebut dianggap sebagai prasasti oleh Keraton Agung Sejagat. Batu tersebut berasal dari Kecamatan Bruno, Purwerejo yang berjenis batu andesit. Anehnya, ‘anggota keraton’ tersebut  justru menyakralkan batu biasa tersebut dengan menutupinya menggunakan mori dan memberikan berbagai jenis sesaji.

Kejanggalan lainnya adalah kerajaan yang didirikan oleh Totok ini melarang membawa handphone ke dalam lingkup keraton. Hal tersebut juga berlaku ketika mereka sedang melakukan kirab. Kirab adalah budaya berjalan bersama-sama atau beriring-iringan  secara teratur dan berurutan dari muka ke belakang dalam sebuah upacara adat atau keagamaan.

Kirab  budaya berjalan bersama-sama atau beriring-iringan  secara teratur dan berurutan dari muka ke belakang dalam sebuah upacara adat atau keagamaan.
Totok Santoso Hadiningrat (nama aslinya Toto Santoso) dan pasangannya Dyah Gitarja (nama aslinya Fanni Aminadia) ini mungkin ingin terlihat berwibawa sebagaimana pasangan raja dan ratu pada umumnya. Apakah kedua pasangan ini melakukan penipuan sehingga ratusan pengikutnya mau mengakui sebagai raja dan ratu?

Bukan hanya itu, ia juga mengklaim menguasai dan memiliki wilayah di seluruh dunia. Namun, belum sempat menguasai dunia aksi Raja dan Permaisuri Keraton Agung Sejagat, Totok Santosa dan Fanni Aminadia sudah berakhir. Pasalnya, polisi menangkap mereka karena aktivitas yang membuat resah masyarakat.

Akhirnya tak lama berdiri, KAS mulai runtuh setelah tercium bau-bau kriminal di dalamnya. Beberapa dokumen palsu disita polisi guna melakukan penyelidikan lebih lanjut sementara Toto dan Dyah masih diamankan kepolisian setempat.

Setelah tertangkapnya ‘Raja’ dan ‘Permasuri’ tersebut, beberapa fakta mencengangkan terungkap. Polisi mengungkap bahwa keduanya bukanlah sepasang suami istri melainkan hanya sebagai teman perempuannya.

Selain itu, mereka juga dianggap telah melakukan tindakan kriminal penipuan. Sebab, agar menjadi anggota dalam kerajaan tersebut mengharuskan untuk menyerahkan uang puluhan juta rupiah. Uang tersebut nantinya akan ditukar dengan seragam dan pangkat.

Usut punya usut, rakyat KAS yang merangkap sebagai pegawai istana itu mayoritas berasal dari luar daerah bahkan si raja pun bukan dari Purworejo. Ini menunjukkan bahwa KAS sama sekali tidak memiliki pengakuan sah dari warga Purworejo. Lalu bagaimana mereka bisa datang jauh-jauh ke Purworejo kalau tidak ada sesuatu yang janggal?

Jika kerajaan lain hancur karena serangan musuh dari luar atau karena intrik internal kerajaan, maka KAS ini hancur karena ditangkap polisi atas kasus penipuan. Kasus ini pun masih berlanjut sampai ditemukan titik terang. Jika memang terbukti melakukan penipuan maka KAS hampir serupa dengan Dimas Kanjeng. Bedanya, KAS berkedok sebagai kerajaan sementara Dimas Kanjeng berkedok agama. (tim jateng7)


Hujan Deras, Jalan Desa Purwokerto Kayen Longsor, Hambat Akses Jalan

Add Kondisi jalan utama gunung kendeng desa Purwokerto longsor terkikis air

JATENG7.KAYEN - Hujan deras di sertai angin kencang yang terjadi Kamis  16/1/2020 jam 15.00 Wib diwilayah Pegunungan Kendeng mengakibatkan jalan utama yang menghubungkan Desa Purwokerto dengan Dukuh Maitan Kecamatan Tambakromo mengalami longsor karena terkikis air. Jalan yang menghubungkan Kecamatan Tambakromo dengan  Kayen longsor  nyaris putus, sehingga bisa menghambat akses jalan.

Jalan yang di bangun oleh PU mengalami  longsor tepatnya di Desa Purwokerto  RT 01 RW 02 Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Melihat kondisi tersebut, perangkat desa Purwokerto bersama anggota Polsek Kayen   untuk dilakukan langkah antisipasi.

Lantaran kondisi tanah yang labil diberi tanda garis polisi, sehingga kendaraan roda empat dilarang melintas untuk meminimalisir akibat yang lebih parah. Kendaraan roda empat dialihkan dari Pakis diarahkan ke jalan atas lewat Dukuh Gayam tembus ke Dukuh Sendang Beketel. Selain itu, kerja bakti akan dilaksanakan hari Jumat (17 Januari 2020) Bersama Polsek dan masyarakat setempat.

Penyebab longsor tersebut diperkirakan karena curah hujan yang tinggi sedangkan limpasan air hujan tidak dapat masuk ke aliran sungai terdekat bahkan mengalir dijalan raya dan masih aliran sungai melalui area tebing yang longsor sehingga mengakibatkan semakin parahnya lokasi tebing yang longsor dan besar berpotensi longsor susulan.

Kronologi kejadian menurut Sekretaris Desa   Purwokerto Hernawan   mengungkapkan, tanah longsor, tebing jalan poros / jalan kabupaten  yang menghubungkan antara 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Kayen dengan Kecamatan Tambakromo yang berjarak kurang lebih 1 Meter terjadi longsor.

Kejadian tersebut sudah didatangi oleh Pemerintah Propinsi, Kabupaten, PU, BPBD Kabupaten Pati dan Pemerintah Kecamatan Kayen goton royong  buat bronjong kedalaman 30 meter. Warga setempat juga ikut berperan aktif bergotong royong buat jalan darurat biar kendaraan kecil bisa lewat. Harapan warga masyarakat segera di tangani Pemkab Pati biar perekonomian lancar.Kejadian tersebut bersamaan banjir di desa Kayen.  

Apabila dalam kurun waktu 1 Minggu kedepan curah hujan masih tinggi, bisa memutus akses jalan kabupaten yang menghubungkan 2 kecamatan yaitu Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo.

“Disarankan pihak pemerintahan dan instansi terkait lainnya untuk segera melaksanakan penanganan secara cepat sehingga tidak mengakibatkan tanah longsor susulan yang dapat memutuskan akses jalan.

Jalan tersebut merupakan akses jalan utama yang merupakan jalan perekonomian dari Kecamatan Kayen yang dapat menghuhungkan Kecamatan Tambakromo serta kabupaten Blora dan Purwodadi.

Pengguna jalan tersebut merupakan jalan utama bagi anak sekolah wilayah Desa Pakis dan Desa Maitan serta jalur utama bagi pedagang, baik kebutuhan pokok maupun bahan kebutuhan sekunder lainnya karena jalur tersebut merupakan jalur terdekat menuju   Kecamatan Kayen.(tim jateng7/Peci)


Thursday, January 16, 2020

Sampah Sumbat Jembatan, Sungai Simo Meluap Banjiri Dua Desa Kecamatan Pati

foto/JT7. pengerukan sampah yang menyumbat jembatan dengan exafator di desa Sugihrejo Kec.Pati Selasa/14/1

JATENG7.PATI - Hujan yang terjadi beberapa hari ini mengakibatkan debit air di sungai meluap hingga membawa banyak sampah yang dibuang ke sungai dan menyebabkan penyumbatan jembatan di Desa Sugiharjo Kecamatan Pati. Dampaknya   luapan sungai meluber hingga ke jalan Pantura Pati–Juwana.  

Dalam keadaan darurat, Bupati Pati Haryanto dan wabup (Safin), bergegas melakukan peninjauan ke lokasi luapan sungai di Desa Sugiharjo, dan Desa Sinoman Kecamatan Pati, dimana kedua desa tersebut  dilalui oleh sungai Simo,  Selasa (14/1).  

Dalam pantauan Bupati, menyayangkan masih banyaknya warga yang membuang sampah di sungai Simo. Bahkan, saat pemantauan terlihat potongan bambu, pohon pisang, pohon randu ikut hanyut terbawa arus, hingga menyumbat arus sungai di bawah jembatan.

"Kita atasi bersama, baik  Wakil Bupati, Wakapolres, Dandim dan BPBD   semua terkait dalam rangka untuk mengantisipasi agar tidak meluas.  Sedangkan jembatan yang berada di jalur Sungai Simo yang ada usaha-usahanya akan kita tertibkan.  Kita undang agar dibenahi disesuaikan dengan konstruksi yang benar agar tidak banjir terus menerus," ujar Bupati.

Selama musim penghujan ini Bupati mengatakan telah terjadi tiga banjir diakibatkan jembatan yang tersumbat oleh sampah.  Seperti jebolnya tanggul di beberapa wilayah kemarin, Bupati menginstruksikan pihak terkait untuk membenahi tanggul yang jebol di desa Sinoman bersama-sama, namun menunggu airnya surut," ujarnya.

Bupati mewanti- wanti pihak desa maupun relawan untuk berhati-hati dalam penanganan bencana. Ia mengkhawatirkan bila tidak memperhatikan keselamatan, justru akan membahayakan relawan. Haryanto pun mengajak masyarakat untuk berpartisipasi mencegah banjir dengan membuang sampah tidak di sembarang tempat atau sungai.

 "Jangan saling menyalahkan satu dengan yang lain. Yang kita lakukan  langsung turun bersama Wabup, Kapolres dan Dandim. Tujuannya untuk menangani  banjir secepatnya. Untuk pengecekan konstruksi akan dipimpin oleh Pak wakil, apakah pembuatan jembatan sudah sesuai dengan spesifikasi yang ada," tegas Bupati. (tim jateng7/Koce )

Hadiri Grand Launching BNI Syariah, Bupati Berharap Perbankan Mampu Berkompetisi Yang Sehat



JATENG7.PATI - Tumbuhnya lembaga-lembaga perbankan di Kabupaten Pati, baik perbankan konvensional maupun syariah, menunjukkan bahwa tingkat perekonomian masyarakat cukup bagus. Sebab, munculnya kantor cabang, kantor cabang pembantu, maupun kantor kas dari suatu lembaga perbankan tidak lain merupakan respons atas kebutuhan pasar. Hal tersebut disampaikan Bupati Pati Haryanto ketika menghadiri acara Grand Launching BNI Syariah Kantor Cabang Pembantu (KCP) Pati, Selasa (14/1).

"Karena itu selaku kepala daerah, saya menyambut baik kehadiran KCP BNI Syariah di Pati. Dengan berdirinya cabang pembantu di sini, artinya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kalau dulu mungkin masyarakat lari ke Kudus, sekarang tidak perlu jauh-jauh. Di Pati sudah ada. Tempatnya pun bagus. Strategis, di perkotaan," ujar Bupati.

Haryanto juga mendukung keberadaan bank-bank syariah lainnya di Kabupaten Pati. Menurutnya, lembaga perbankan atau keuangan yang dikelola secara syariah kini tengah mengalami tren positif. "Masyarakat, khususnya Muslim, lebih “aware” terhadap ajaran Islam dalam hal ini. Karena itu, wajar jika lembaga-lembaga keuangan berbasis syariah terus bermunculan, termasuk koperasi-koperasi syariah," ungkap Haryanto.

Dengan banyaknya lembaga perbankan syariah yang ada, Haryanto berpesan agar masing-masing tidak perlu khawatir dengan iklim persaingan yang ada. "Banyak perbankan, sepanjang dikelola dengan baik, memberi pelayanan terbaik, pasti tidak akan ditinggalkan nasabah. Kompetisi wajar, tapi kompetisi yang sehat. Tidak usah khawatir dengan banyaknya pesaing," imbuhnya.

Ia juga berpesan pada manajemen perbankan untuk mengelola lembaganya secara disiplin, hati-hati, dan penuh konsentrasi. Sebab, menurutnya, manajemen yang buruk dapat menjadikan lembaga keuangan, sebesar apa pun, tumbang dan pada akhirnya menjadikan masyarakat sebagai korban.

Ia pun menyinggung adanya pemberitaan-pemberitaan mengenai beberapa lembaga keuangan besar.  bahkan ada di antaranya yang merupakan BUMN, yang mengalami persolaan cukup serius akibat manajemen yang buruk. "Mendengar berita mengenai jatuhnya lembaga keuangan tertentu, kadang kita khawatir mau investasi dimana,"ujarnya.

Banyak juga koperasi bermasalah yang sudah memakan korban. Padahal masyarakat ingin yang aman.  Haryanto meyakini, manakala dikelola dengan baik, lembaga keuangan pasti akan dipercaya masyarakat dan terus berkembang. Pungkasnya.(tim jateng7/.Dim).

Lahan Kritis, Ganjar Pranowo dan Doni Datangi Kawasan Pegunungan Kendeng, Untuk Penghijauan Kembali



foto/JT7. Ganjar Pranowo berikan pengarahan terkait penanganan kerusakan lahan untuk penghijaun kembali  di kawasan peg.kendeng  obyek wisata lorodan semar Desa Sumbersari  Kayen, Pati , Rabu (15/1/2020).
JATENG7.KAYEN - Untuk menangani kerusakan lahan di Pegunungan Kendeng, dilakukan penanaman pohon bersama antara Pemerintah Kabupaten Pati, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Tepatnya Penanaman pemeliharaan pohon di lahan kritis kawasan gunung kendeng di seputaran obyek wisata lorodan semar Desa Sumbersari Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Jawa Tengah, Rabu (15/1/2020).

Turut mendampingi Gubernur Ganjar Pranowo dan Kepala BNPB Doni Monardo melakukan penanaman pohon di kawasan Pegunungan Kendeng, Bupati Pati Haryanto bersama Wakil Bupati Saiful Arifin.  Dan sebagai bentuk ajakan agar masyarakat mencegah banjir dengan tidak buang sampah sembarangan,   di sepanjang jalan menuju tempat acara, Gubernur, Bupati Pati Haryanto dan Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (Safin) memunguti sampah plastik yang ada di lokasi penanaman yaitu di tempat wisata Lorodan Semar, Desa Sumbersari Kecamatan Kayen.

Dalam sambutanya, Ganjar Pranowo mengungkapkan,” yang perlu dilakukan adalah mitigasi lingkungan dari hulu ke hilir. Dimana terlihat relatif rusak di sisi hulu. Pihaknya pun melakukan penghijauan di sepanjang Muria, yaitu jalur Pegunungan Kendeng untuk memperbaiki lingkungan. "Bareng-bareng kita melakukan penanaman di musim hujan ini, karena terjadi kerusakan yang cukup parah di lahan Kendeng," imbuhnya.

Sementara di bagian tengah, Gubernur menegaskan menjadi wewenang provinsi melalui BBWS untuk memperbaiki. Sedangkan untuk pencegahan banjir, Ganjar optimis belum terlambat untuk melakukan perbaikan lingkungan. Salah satu diantaranya, dengan penghijauan di Gunung Kendeng yang kini menjadi lahan kritis.

Namun ia menekankan, butuh waktu 3-4 tahun agar pohon yang ditanam bisa efektif menahan air. Kedatangan kami kesini, bersama Pak Doni jauh- jauh dari Jakarta sebagai bentuk kepedulian untuk menghijaukan Kendeng lagi," ujarnya.

Ganjar mengungkapkan, dalam penghijauan yang perlu dicermati bukan hanya menanam saja. Namun dibutuhkan merawat pohon yang telah ditanam. Ia mengatakan, dibutuhkan waktu tiga tahun untuk pohon agar bisa tumbuh mandiri. "Menanam itu bukan dihitung berapa yang ditanam, tapi berapa yang hidup. Jadi mesti ada kelompok masyarakat yang diberi tanggung jawab untuk merawat pohon yang telah ditanam," tegasnya.

Gubernur juga mengimbau agar masyarakat yang menanam pohon, dapat melakukan pengecekan kembali apakah pohonnya bisa hidup atau tidak. "Untunglah masih musim penghujan, apalagi di daerah karst seperti ini pohon perlu banyak disiram," imbuh Ganjar.

Dalam waktu yang sama, Bupati Haryanto berharap, dengan adanya penanaman bibit ini, hutan di pegunungan Kendeng kembali lestari. Sehingga, air hujan akan terserap dengan baik dan berbagai bencana alam, di antaranya banjir dan tanah longsor dapat dicegah. 

Bupati Pati Haryanto sempat menyampaikan laporan bahwa, baru-baru ini pihaknya juga telah melakukan penghijauan, dan ia pun mengapresiasi dan menyampaikan ucapan terima kasih kepada BNPB dan Gubernur Jawa Tengah yang telah turut memberikan perhatian untuk wilayah Pati Selatan.  Dalam kesempatan itu juga terungkap bahwa Karang Taruna Pati juga telah menanam 80 ribu pohon di berbagai lokasi,”katanya.
Foto/JT7. Bupati Hariyanto ikut melakukan penanaman pohon di kawasan peg.kendeng wilayah wisata Lorodan Semar desa Sumbersari Kayen, Rabu 15/1.
Sementara, Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menawarkan solusi agar warga tak mudah menebang dan menggunduli lahan di Pegunungan Kendeng yang berada di wilayah Kabupaten Pati bagian selatan.

Menurutnya, selain menanam tanaman keras yang punya nilai jual tinggi, penduduk setempat bisa menanam tumbuhan lain di sela-sela pohon tersebut.  Tanaman yang ada di bawahnya juga diharapkan memiliki nilai jual dan banyak dibutuhkan oleh dunia industri.

Tanaman keras yang dimaksudkan di sini adalah tanaman yang mempunyai masa manfaat 20 tahun atau lebih, seperti misalnya pohon jati. Sedangkan tanaman di bawahnya dapat berupa tumbuhan  rempah-rempah, dan tanaman lain yang punya nilai jual dan dibutuhkan oleh dunia industri.

Menurut Doni, kalau punya nilai jual  kemungkinan kecil mereka akan menebangnya", tutur Ketua BNPB Doni Monardo, saat memberikan keterangan kepada media disela-sela kegiatan penghijauan  Kawasan Pegunungan Kendeng di Desa Sumbersari Kecamatan Kayen Rabu (15/1), siang.   Ia pun menegaskan bahwa di Jawa Tengah banyak industri jamu yang tentu butuh pasokan rempah-rempah.

Selain itu, berdasarkan data dari International Trade Center yang dihimpun BNPB, menurut Doni, saat ini kebutuhan global  atsiri, aroma terapi, kosmetik, dan farmasi yang bersumber dari rempah-rempah, nilainya bahkan mencapai USD 427 Milyar.  "Negara kita dulu juga terkenal terkena sebagai penghasil penghasil rempah-rempah. Bahkan salah satu perusahaan Belanda yang dikenal dengan VOC dulu bisa meraup untung hingga USD 7,9 triliun dari hasil penjualan rempah-rempah", jelasnya.

Ia bahkan menyinggung soal komoditi porang yang kini sedang populer dipakai sebagai bahan pembuatan mie shirataki dan beras shirataki. "Indonesia memiliki potensi sebagai penghasil porang terbesar di dunia. Di sela-sela tanaman keras warga bisa tanam tumbuhan porang", harapnya.

Ditanya soal kondisi pegunungan kendeng yang gundul, Ketua BNPB menjelaskan bahwa saat ini ada 12 ribu hektar lahan kritis di wilayah tersebut. "Butuh sekitar 4,8 juta pohon untuk menghijaukan kembali wilayah ini", tegasnya.

Jika penghijauan berhasil, maka ia optimis banjir bandang yang kerap terjadi di Kayen dan Sukolilo dapat berkurang. "Saat ini di hulu gundul, air hujan tidak ada resapan. Sementara itu ada sedimentasi sungai, jadinya sungainya dangkal", terang Doni. (tim jateng7/Peci).

Related Post

.